Author name: admin

Kegiatan

Rapat Sinkronisasi RANPERDES : Upaya Menyatukan Persepsi untuk Pengelolaan Mangrove Desa Sungsang IV

Pada tanggal 15 Juli 2024, Tim Forum DAS Sumatera Selatan bersama CIFOR dan KPH mengadakan Rapat Sinkronisasi RANPERDES yang melibatkan berbagai pihak terkait dalam proses penyusunan Rancangan Peraturan Desa (RANPERDES) tentang Perlindungan dan Pengelolaan Mangrove Desa Sungsang IV. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Bapak Agus, yang menegaskan bahwa agenda ini merupakan ruang diskusi penting untuk memastikan inisiatif yang dijalankan Forum DAS Sumsel dan KPH dapat menghasilkan dokumen yang sinkron dan berujung pada lahirnya Peraturan Desa (Perdes) yang siap disahkan. Ia juga berharap proses bersama ini dapat memperkuat kerangka hukum yang diperlukan untuk pengelolaan mangrove secara berkelanjutan. Selanjutnya, Wakil Ketua Forum DAS Sumsel, Ibu Dr. Ir. Karlin Agustina, M.Si, menyampaikan bahwa rapat ini adalah tindak lanjut dari diskusi bersama KPH pada 1 Juli 2024. Ia menekankan pentingnya penyamaan persepsi di antara seluruh pihak agar RANPERDES dapat difinalisasi. RANPERDES diharapkan menjadi payung hukum utama bagi implementasi kegiatan perlindungan dan pengelolaan mangrove di Desa Sungsang IV. Dalam sesi berikutnya, Kepala Desa Sungsang IV memberikan penjelasan terkait hasil musyawarah Desa bersama BPD dan tokoh-tokoh masyarakat. Musyawarah tersebut memutuskan bahwa pengelolaan kawasan mangrove akan sepenuhnya diserahkan kepada LDPHD, mengingat lembaga tersebut telah memiliki dasar hukum langsung dari KLHK. Berdasarkan keputusan ini, proses pengesahan RANPERDES ditunda, dan perlu dilakukan pembahasan ulang pada waktu berikutnya. Kesimpulan Rapat Proses penyusunan RANPERDES masih berlanjut dan akan dibahas kembali melalui musyawarah Desa. Untuk saat ini, kewenangan pengelolaan kawasan mangrove Desa Sungsang IV diserahkan kepada LDPHD. Tujuan rapat yaitu sinkronisasi belum dapat tercapai karena RANPERDES belum disahkan dan masih membutuhkan pendalaman serta kesepakatan bersama. Rapat ini menjadi momentum penting dalam mencari titik terang proses regulasi di tingkat desa, sekaligus menguatkan komitmen multipihak dalam menjaga keberlanjutan mangrove di Kabupaten Banyuasin.

Berita

Onboarding Laskar Muda Forum DAS Sumsel 2024

Palembang, 06 Juli 2024. Forum DAS Sumatera Selatan menggelar Sesi Onboarding dan Pertemuan Perdana bersama Anggota Baru Laskar Muda Forum DAS Sumsel. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan struktur organisasi, ruang gerak kegiatan, serta membangun kebersamaan di antara para anggota yang baru bergabung. Onboarding ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap anggota memahami visi dan misi Laskar Muda, peran strategis Forum DAS Sumsel, serta kontribusi yang dapat dilakukan pemuda dalam pengelolaan dan pelestarian daerah aliran sungai secara berkelanjutan. Acara diawali dengan sesi perkenalan antar peserta untuk membangun kedekatan dan menciptakan suasana yang akrab. Selanjutnya, dilakukan diskusi bersama mengenai agenda kegiatan Laskar Muda yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, termasuk pembagian peran dan gagasan kolaboratif dari para anggota baru. Sebagai penutup, kegiatan dilengkapi dengan beragam permainan (games) yang bertujuan memperkuat kekompakan, kerjasama tim, dan menciptakan rasa kebersamaan di antara para anggota. Nuansa penuh antusiasme terlihat sepanjang kegiatan, menandai awal perjalanan baru bagi Laskar Muda Forum DAS Sumsel untuk terus berperan aktif dalam aksi-aksi lingkungan. Melalui onboarding ini, diharapkan para anggota baru dapat semakin memahami nilai-nilai organisasi, berkolaborasi secara lebih solid, serta menjadi penggerak perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan di Sumatera Selatan.

Berita

Menjelajahi Jejak Restorasi Mangrove : Kunjungan Lapang Project SMART Bersama CIFOR–Unsri–Temasek Foundation

Sungsang, Banyuasin, 4 Juli 2024. Tim Forum DAS Sumatera Selatan turut berpartisipasi dalam Kunjungan Lapang Project Penelitian SMART yang diselenggarakan oleh CIFOR. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi penelitian Sungsang Mangrove Restoration and Ecotourism (SMART), sebuah inisiatif kolaboratif antara Forum DAS Sumsel, CIFOR, dan Universitas Sriwijaya (Unsri), bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin, serta mendapatkan dukungan pendanaan dari Temasek Foundation, Singapura. Program penelitian yang telah dimulai sejak November 2021 ini bertujuan memperkuat upaya restorasi mangrove dan mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di wilayah Sungsang. Kunjungan lapang dilakukan bersama tim gabungan dari Forum DAS Sumsel, CIFOR, Temasek Foundation, dan Unsri. Rombongan melakukan perjalanan menggunakan speed boat untuk menjangkau beberapa Arena Aksi (AA) dari Project SMART. Beberapa titik yang dikunjungi meliputi: AA-1 – Model Adopsi Pohon, lokasi demonstrasi adopsi mangrove berbasis partisipasi masyarakat. Pulau Pasir Hitam, salah satu kawasan penting yang menjadi bagian dari bentang mangrove Sungsang. Hutan Desa Sungsang IV, wilayah pengelolaan masyarakat yang menjadi area uji coba restorasi dan perlindungan mangrove. AA-3 – Lokasi Collaborative Mangrove Planting, tempat dilaksanakannya penanaman mangrove kolaboratif lintas stakeholder. Di lokasi-lokasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan teknis mengenai metode penanaman mangrove, teknik monitoring berbasis masyarakat, serta pendekatan pemulihan ekosistem yang dilakukan melalui kolaborasi multipihak. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke pembibitan mangrove berbasis masyarakat di Sungsang IV, disertai sesi diskusi stakeholder sharing session untuk mendengarkan praktik terbaik, tantangan, dan pembelajaran dari berbagai pihak. Selanjutnya, rombongan bergerak menuju AA-4 – Model Restorasi Silvofishery Kepiting Bakau di Desa Marga Sungsang. Di lokasi ini, peserta meninjau penerapan model integrasi antara budidaya kepiting bakau dan rehabilitasi mangrove yang menjadi salah satu inovasi penting dalam Project SMART. Kunjungan ke lokasi silvofishery menunjukkan bagaimana pemulihan ekosistem dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan kunjungan lapang ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi perkembangan Project SMART, tetapi juga memperkuat komitmen kolektif dalam memastikan keberlanjutan upaya restorasi mangrove di Kabupaten Banyuasin. Kolaborasi lintas lembaga dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pengelolaan mangrove yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Kegiatan

Memperkuat Regulasi Mangrove : Forum DAS Sumsel dan KPH Pal-Ba Lanjutkan Audiensi Finalisasi Ranperdes Sungsang IV

Palembang, 01 Juli 2024. Forum DAS Sumatera Selatan melaksanakan audiensi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Palembang–Banyuasin (Pal-Ba) untuk menindaklanjuti proses finalisasi Rancangan Peraturan Desa (Ranperdes) Sungsang IV terkait perlindungan dan pengelolaan hutan mangrove. Audiensi diawali dengan penjelasan dari Ketua Forum DAS Sumsel mengenai progres penyusunan Ranperdes. Dokumen Ranperdes telah melalui beberapa tahapan penting, termasuk pembahasan bersama Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Setelah ditetapkan, Ranperdes ini dirancang untuk melahirkan turunan kebijakan berupa Surat Keputusan (SK) Desa, yang akan menjadi dasar pembentukan kelompok-kelompok masyarakat sebagai pelaksana dan pengawal regulasi di lapangan. Namun, dalam proses finalisasi, muncul hambatan dari pihak Kepala Desa. Wakil Ketua Forum DAS Sumsel, Karlin Agustina, mengungkapkan bahwa terdapat permintaan revisi dari Kepala Desa, meskipun tidak ada penjelasan rinci mengenai substansi revisi tersebut. Perbedaan persepsi muncul karena pihak Kepala Desa menilai cakupan Ranperdes terlalu terbatas pada wilayah Hutan Desa, padahal dokumen tersebut telah dirancang secara komprehensif mencakup perlindungan dan pengelolaan hutan mangrove di seluruh Wilayah Sungsang IV, bukan hanya area yang berstatus Hutan Desa. Melihat dinamika tersebut, Forum DAS Sumsel menilai perlunya dukungan dan kehadiran KPH sebagai mediator untuk memperjelas permasalahan serta mempercepat finalisasi Ranperdes. Pihak KPH kemudian memberikan saran tindak lanjut berupa mengundang Kepala Desa untuk melakukan diskusi bersama, sekaligus membahas penyelarasan Ranperdes dengan dokumen Rencana Kerja Pengelolaan Savana (RKPS). Ketua Forum DAS Sumsel juga menegaskan pentingnya sinkronisasi antara berbagai instrumen pengelolaan seperti LPHD, dokumen RKPS, serta regulasi desa seperti Ranperdes. Sinkronisasi ini penting agar peraturan desa tidak hanya mengatur wilayah LPHD, tetapi juga mengakomodasi kawasan hutan lindung lainnya yang berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan desa yang lebih luas. Sebagai tindak lanjut, KPH Pal-Ba bersama Forum DAS Sumsel dan dukungan fasilitasi dari CIFOR sepakat untuk mengadakan Rapat Sinkronisasi Ranperdes dengan melibatkan Kepala Desa Sungsang IV. Pertemuan tersebut direncanakan akan berlangsung pada awal Agustus 2024. Audiensi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola mangrove di Sungsang IV, sekaligus memastikan bahwa regulasi desa yang disusun memiliki landasan yang solid, terintegrasi, dan dapat diterapkan secara efektif oleh seluruh pemangku kepentingan.

Kegiatan

Menetapkan Arah Pengelolaan Lingkungan : Forum DAS Sumsel Identifikasi Isu Prioritas di Desa Lebuh Rarak

Desa Lebuh Rarak, OKI, 16 Mei 2024. Forum DAS Sumatera Selatan kembali hadir di Desa Lebuh Rarak, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, untuk melaksanakan diskusi lanjutan terkait identifikasi permasalahan lingkungan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penggalian isu awal yang dilakukan pada 20 Maret 2024, dengan fokus kali ini mengerucutkan dan menetapkan isu lingkungan prioritas yang perlu segera ditangani bersama. Diskusi dipusatkan pada dua kelompok ekosistem utama yang menjadi ciri khas Desa Lebuh Rarak, yaitu habitat purun dan lebak lebung. Peserta menggali lebih mendalam dinamika pengelolaan kedua kawasan tersebut, baik dari aspek perairan, pemanfaatan sumber daya, hingga tekanan lingkungan yang semakin meningkat. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta, yang mewakili berbagai unsur penting masyarakat desa. Hadir Kepala Desa Lebuh Rarak, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pengrajin purun, pengemin, tokoh adat, serta perwakilan masyarakat sebagai bentuk kolaborasi dan partisipasi aktif dalam menentukan arah pengelolaan lingkungan desa. Melalui proses diskusi yang dinamis, teridentifikasi tujuh isu lingkungan prioritas yang terbagi dalam dua kategori utama: Isu Prioritas Terkait Habitat Purun (4 isu) Permasalahan sampah yang mencemari area pertumbuhan purun. Kelangkaan sumber daya purun akibat tekanan pemanfaatan dan perubahan lahan. Kebakaran lahan yang mengancam kawasan purun serta ekosistem pendukungnya. Kotoran sapi yang mencemari area pertumbuhan purun dan perairan sekitar. Isu Prioritas Terkait Lebak Lebung (3 isu) Sumber daya ikan yang semakin menurun, dipengaruhi oleh perubahan kualitas habitat dan pola penangkapan. Pencemaran air sungai dan lebak, baik oleh limbah domestik maupun aktivitas lain di sekitar wilayah perairan. Pertumbuhan eceng gondok yang menghambat aliran air dan menurunkan kualitas perairan. Hasil diskusi ini menghasilkan rumusan isu strategis yang menjadi dasar penanganan dan perencanaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Desa Lebuh Rarak. Rumusan ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi pemerintah desa, masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk menyusun program perbaikan lingkungan yang terarah, kolaboratif, dan berkelanjutan. Forum DAS Sumsel berkomitmen untuk terus mendampingi proses ini sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keberlanjutan ekosistem purun dan lebak lebung, yang merupakan identitas sekaligus sumber kehidupan masyarakat Desa Lebuh Rarak.

Kegiatan

Aksi Serentak Menjaga Pesisir : Forum DAS Sumsel Ikut Sukseskan Penanaman Mangrove Nasional 2024

Banyuasin, 25 April 2024. Forum DAS Sumatera Selatan turut berpartisipasi dalam kegiatan Penanaman Mangrove Serentak Seluruh Indonesia, sebuah gerakan nasional yang digelar secara simultan di 25 lokasi dari Sabang hingga Merauke. Untuk lingkup Provinsi Sumatera Selatan, kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, instansi pusat, organisasi masyarakat, hingga komunitas lingkungan. Kegiatan di Sumatera Selatan dipimpin langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, didampingi oleh Pejabat Tinggi Madya (Eselon I) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kehadiran unsur pemerintah pusat dan daerah menunjukkan kuatnya komitmen bersama dalam memperkuat keberlanjutan ekosistem pesisir, sekaligus mendukung target restorasi mangrove nasional. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Gubernur yang menekankan pentingnya pelestarian mangrove sebagai benteng alami pesisir, pelindung dari abrasi, serta penopang kehidupan masyarakat pesisir. Sambutan dilanjutkan oleh perwakilan Kementerian LHK yang menggarisbawahi peran strategis mangrove dalam mitigasi perubahan iklim, terutama dalam penyimpanan karbon biru (blue carbon). Setelah itu dilakukan penyerahan bibit mangrove secara simbolis, dilanjutkan dengan penanaman pohon serentak yang melibatkan seluruh peserta yang hadir. Tim Forum DAS Sumsel juga turut serta melakukan penanaman, sebagai bentuk dukungan dan kontribusi nyata dalam menjaga ekosistem mangrove di Sumatera Selatan. Gerakan penanaman serentak ini diharapkan dapat mempercepat upaya rehabilitasi pesisir, memperkuat ketahanan lingkungan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai aset ekologis dan ekonomi.

Berita

Identifikasi Permasalahan Lingkungan di Desa Lebuh Rarak : Langkah Awal Memperkuat Pengelolaan DAS dan Ekosistem Lebak Lebung

Desa Lebuh Rarak, OKI, 20 Maret 2024. Forum DAS Sumatera Selatan melaksanakan kegiatan Identifikasi Permasalahan Lingkungan Tingkat Tapak di Balai Desa Lebuh Rarak, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya penguatan pengelolaan lingkungan berbasis desa, khususnya pada ekosistem purun, lebak lebung, dan sumber daya perairan. Proses identifikasi dilakukan melalui diskusi mendalam bersama perangkat desa dan masyarakat, menggunakan kuisioner serta wawancara terarah untuk menggali informasi secara detail mengenai berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi oleh desa. Pendekatan ini bertujuan memperoleh gambaran nyata tentang kondisi ekosistem di tingkat tapak sebagai dasar penyusunan aksi dan rekomendasi yang relevan. Dari proses penggalian informasi, teridentifikasi berbagai permasalahan lingkungan yang cukup kompleks, antara lain: 1. Permasalahan Lingkungan Umum Penumpukan sampah di beberapa lokasi permukiman. Kotoran sapi yang mencemari lingkungan karena hewan ternak dibiarkan bebas berkeliaran. Sumber daya purun semakin langka, sehingga mempengaruhi aktivitas pengrajin purun. Kebakaran lahan yang kerap terjadi pada musim kemarau. Alih fungsi lahan yang mengurangi area habitat purun dan lebak. Pencemaran perairan pada sungai dan lebak akibat limbah dan aktivitas manusia. Jarak sumber bahan baku purun yang semakin jauh, sehingga menyulitkan masyarakat dalam memperoleh bahan baku. Air jamban yang langsung mengalir ke badan air, berpotensi menambah beban pencemaran. 2. Permasalahan Lingkungan Terkait Pengelolaan Lebak Lebung Sumber daya ikan semakin berkurang akibat tekanan lingkungan dan pola pengelolaan yang belum berkelanjutan. Kasus ikan mati yang terjadi pada periode tertentu. Air sungai/lebak tercemar, memengaruhi habitat ikan serta kualitas air. Desa berada pada zona rawan banjir, terutama saat debit air meningkat. Penyebaran eceng gondok yang menghambat aliran air dan mengurangi kualitas habitat perairan. Permasalahan limbah ikan, terutama dari proses pengolahan tradisional masyarakat. Kegiatan identifikasi permasalahan ini menjadi langkah awal dalam merumuskan strategi pengelolaan lingkungan berbasis desa yang lebih terstruktur. Data dan informasi yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan untuk: Menyusun rencana aksi prioritas yang dapat dijalankan oleh desa. Mengembangkan program pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Memperkuat koordinasi antarpihak untuk pengelolaan DAS, purun, dan lebak lebung secara berkelanjutan. Menjadi dasar kolaborasi antara Forum DAS Sumsel, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lain dalam menjaga keberlanjutan lingkungan Desa Lebuh Rarak.

Kegiatan

Memperkuat Aksi Tapak : Forum DAS Sumsel Tinjau Pengelolaan Mangrove di Sungsang

Desa Sungsang, Banyuasin, 07 Maret 2024 Forum DAS Sumatera Selatan melaksanakan kunjungan lapangan ke Desa Sungsang I, Kabupaten Banyuasin. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi program yang telah direncanakan sejak tahun 2022–2024, sekaligus memastikan bahwa berbagai inisiatif yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat—baik secara langsung maupun tidak langsung—serta berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem mangrove. Kunjungan ini diawali dengan diskusi Kanvas Modal Bisnis (Business Model Canvas) bersama perangkat desa di Kantor Desa Sungsang I. Melalui diskusi tersebut, para pihak mengevaluasi peluang usaha berbasis mangrove dan potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Setelah sesi diskusi, tim gabungan yang terdiri dari CIFOR, Forum DAS Sumsel, dan CoE PLACE Universitas Sriwijaya melakukan peninjauan ke beberapa Arena Aksi Potensial di wilayah Sungsang I. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kondisi lapangan, peluang pengembangan usaha, serta tantangan pengelolaan ekosistem mangrove. Kunjungan tapak ini mengungkapkan variasi inisiatif pengelolaan mangrove di beberapa wilayah sekitar Sungsang, antara lain: Sungsang IV → Terdapat aktivitas penanaman mangrove oleh masyarakat. Marga Sungsang → Masyarakat melakukan penanaman mangrove sekaligus budidaya kepiting. Sungsang I (Teluk Macan) → Merupakan kawasan mangrove daratan dengan potensi pengembangan tanaman kayu yang bernilai ekonomi. Diskusi lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan material kayu di masyarakat meningkat dari tahun ke tahun, sementara ketersediaannya semakin terbatas dan harganya kian mahal. Dari pengamatan di Sungsang I, ditemukan pula banyak sarang walet yang sebagian besar menggunakan kayu sengon sebagai struktur bangunannya. Berdasarkan kondisi tersebut, para pihak sepakat untuk mendorong pengembangan budidaya kayu cepat tumbuh, khususnya sengon putih dan sengon merah, sebagai alternatif yang berkelanjutan dan dapat mendukung kebutuhan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga tekanan terhadap ekosistem mangrove.

Kegiatan

Menguatkan Kolaborasi Multipihak : Lokakarya Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan untuk Pembangunan Rendah Karbon di Kabupaten Banyuasin

Pada tanggal 04 Maret 2024, Forum DAS Sumatera Selatan bersama dengan CIFOR dan UNSRI melaksanakan kegiatan Lokakarya Dukungan Multipihak untuk Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang Berkelanjutan untuk Pembangunan Rendah Karbon dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Lokakarya ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pengelolaan ekosistem mangrove yang lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan di tingkat daerah. Sebagai kabupaten dengan tutupan mangrove terluas di Provinsi Sumatera Selatan, Banyuasin memegang peran strategis dalam keberhasilan pengelolaan mangrove, baik dari aspek ekologi maupun sosial-ekonomi. Pemerintah Kabupaten Banyuasin, bersama para pemangku kepentingan lainnya, menegaskan kembali pentingnya integrasi agenda pemulihan dan perlindungan mangrove ke dalam kebijakan daerah. Selain itu, muncul pula kebutuhan akan wadah kolaborasi multipihak yang lebih formal melalui pembentukan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) di tingkat Kabupaten. Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan dan diskusi pada workshop sebelumnya yang berfokus pada penyelarasan program dan peluang kolaborasi. Melalui pertemuan ini, para peserta berdiskusi mengenai potensi dukungan lintas sektor, praktik baik pengelolaan mangrove, serta langkah-langkah konkret yang perlu ditempuh untuk mewujudkan tata kelola mangrove yang holistik dan inklusif.

Kegiatan

Penguatan Pendidikan Berbasis Lingkungan: Penyerahan Laporan Kurikulum Mulok DAS dan Gambut ke Dinas Pendidikan OKI

Pada 13 Januari 2023, Forum DAS Sumatera Selatan melaksanakan kegiatan penyerahan Laporan Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Gambut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mendorong penerapan pendidikan berbasis lingkungan yang lebih relevan dengan karakteristik wilayah setempat. Kurikulum Mulok DAS dan Gambut disusun sebagai respon terhadap kebutuhan pendidikan di wilayah yang memiliki ekosistem sensitif seperti lahan gambut dan kawasan DAS. Melalui kurikulum ini, peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengelolaan sumber daya alam, pelestarian lingkungan, serta tantangan ekologis yang dihadapi daerah mereka. Kegiatan penyerahan laporan ini bertujuan untuk: Menyampaikan perkembangan penyusunan kurikulum yang telah disesuaikan dengan kondisi geografis dan ekologi wilayah OKI. Memberikan informasi terkini terkait penyesuaian materi ajar berbasis DAS dan gambut. Mendorong kolaborasi antara penyusun kurikulum, Dinas Pendidikan, serta pihak sekolah dalam proses implementasi kurikulum. Dengan kolaborasi yang terbangun, diharapkan kurikulum Mulok DAS dan Gambut dapat diimplementasikan secara optimal, sehingga pendidikan di Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat berjalan lebih kontekstual, adaptif, dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran lingkungan sejak dini.

Scroll to Top